Semangati Jangan Bebani
————–
Apa bedanya antara mengejar dan dikejar-kejar ? Makna dari dua kata sederhana tersebut kita coba implementasikan dalam kasus yang hendak kita bahas saat ini, yakni semangat seorang anak untuk meraih cita-cita.
————–
Ketika suatu jiwa dapat melihat objek yang harus digapai dan dikejar, hal itu menghadirkan semangat selagi tujuan kita masih kuat atau kita merasa cukup memiliki kemampuan untuk mengejarnya.
————–
Apabila energi semangat yang kita tanamkan di dalamnya, maka sang anak tersebut senantiasa memiliki energi dan kesegaran untuk mngejar objek tersebut yang bernama “cita-cita”.
————–
Tak ada cita-cita yang mengharukan bagi orang tua terhadap anaknya, kecuali berharap bahwasannya sang anak akan menjadi anak shaleh yang dapat mendo’akan dengan sepenuh keikhlasan (waladun shalihun yad’ulah).
————–
Pengayaan mental
Ada sebuah penelitian yang dilakukan Dr. Marian C Diamond, peneliti otak miliki Albert Einstein. Setelah mempelajari otak miliki Einstein, Diamond mencoba mengaplikasikan hasil risetnya pada pengayaan lingkungan dengan eksperimennya terhadap tikus.
————–
Satu kelompok tikus memperoleh perlakuan pengayaan emosional, yakni perlakuan penuh kasih-sayang. Ketika ia memberikan sentuhan kasih itu, para tikus menunjukkan tanda-tanda perbaikan fungsi sistem limbik mereka.
————–
Hasil dari riset pengayaan ini, pengayaan secara mental dapat memberi kapasitas fisik yang lebih luas terhadap kecerdasan intelek dan emosi juga.
————–
Penelitian lain dilakukan oleh Diamond, dan kali ini objek percobaannya adalah manusia. Ringkas hasil penelitian tersebut adalah pengayaan secara mental akan meningkatkan kapasitas fisik kecerdasan kita dan objek yang dikenai pengayaan tersebut. Dan pengayaan mental tersebut menghasilkan kecerdasan cair yang lebih tinggi.
————–
Apa yang dimaksud kecerdasan cair ?
Kecerdasan cair adalah ukuran efisiensi kinerja otak, bukan ukuran jumlah fakta yang tersimpan di dalamnya.
————–
Seorang anak boleh jadi tahu banyak, tetapi dia tidak dapat memanfaatkan pengetahuan yang ada di otaknya. Misalnya saja si anak paham tentang ilmu karbon pada usia yang sangat belia, tetpi ia tidak mengambil manfaat dari ilmu karbon tersebut, sehingga ilmu tersebut hanya menjadi kotoran data (data smog) yang bertumpuk di dalam kepalanya.
————–
Hal diatas sering terjadi apabila seorag anak belajar seperti robot. Mereka belajar karena beban tersebut harus mereka selesaikan. Tanpa tujuan,tanpa keterlibatan emosi, dan tanpa menikmatinya.
————–
Berbeda dengan keadaan seorang anak yang belajar dengan inisiatifnya sendiri, dengan semangat yang menyala pada dirinya. Gairah belajar selalu ada pada dirinya, kecuali orang tua atau guru membebani dirinya dengan tugas dan rutinitas yang bertumpuk tanpa memberikan rehat bagi jiwanya. Dan bentuk rehat salah satunya adalah berhibur.
————–
Kata syaidina Ali bin Abi Thalib Radhiyalloohu ‘anhu:
“Hiburlah hati suatu ketika, karena jika dipaksakan terus menerus terhadap sesuatu ia akan menjadi buta:.
————–
Apabila kita ingin memberikan pengayaan atau project, duharapkan bersifat pegayaan mental dan lingkungan. Misalnya memberi pekerjaan mulia yang menantang, seperti beternak atau menggembala kambing, yang dirasa efektif merangsang empati dan kepemimpinan.
————–
Dalam hal ini semangat merekalah yang harus kita bangkitkan, bukan pembebanan jiwa melalui tuntutan-tuntutan. Dalam keadaan tertekan sejumput rumput pun dirasa lebih membebani dibandingkan sebongkah batu disaat yang lapang.
————–
Diharapkan dengan dukungan dan perhatian yang tulus, tugas yang dibebankan akan terasa lebih ringan. Boleh jadi tugas tersebut diperkirakan diluar batas kemampuan tetapi dalam keadaan yang penuh semangat insya 4JJI mereka akan sanggup menunaikan kewajibannya dengan baik.
————–
Bukan lancar berhitung
————–
Sungguh… Yang perlu kita siapkan bukanlah generasi yang hanya pandai berhitung. Melainkan generasi yang sanggup menegakkan kepala menghadapi tantangan, mengepalkan tangannya mengatasi kesulitan, kuat jiwa menghadapi tekanan, cemerlang pikiran dalam merumuskan visi perjuangan,
————–
Sikap optimis meskipun menghadapi hal yang memiliki tingkat kemungkinan yang rendah, cerdas nalar dalam menganalisis ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan dan membasahi matanya di waktu malam dengan munajah kepada Allah SWT Yang Maha Menciptakan.
————–
Wahai para mukminah….
Akankah engkau lahirkan generasi seperti itu apabila engkau tak bisa menaklukan ambisimu untuk memperoleh penghargaan atas prestasi yang kau harapkan ada dari anakmu ?
————–
Tahanlah dirimu sejenak…
Biarlah engkau usap kepala mereka setiap hari tanpa ada tepuk tangan ataupun piala, asalkan pada dada mereka engkau tanamkan cita-cita dan semangat yang tinggi. Sangat tinggi….
————–
Banyak bagian yang menanti kelahiran generasi seperti mereka ukhti….
Generasi yang menyala-nyala semangatnya…
Hidup jiwanya….
Cerdas akalnya…
Kuat imannya……
Tajam pikiran…
Dan gigih perjuangannya…..
————–
Seperti Sabda Rasulullah SAW:
“Allah merakhmati seseorang yang membantu anaknya berbakti kepadanya”
Beberapa orang disekeliling nabi bertanya:
“Bagaimana cara membantunya berbakti ?”
————–
“Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, dan tidak membebaninya, tidak pula memakinya”.
————–
Semoga Allah SWT senantiasa merakhmati kita, dan memberikan kemampuan kita untuk terus memupuk semangat dari anak kita semoga menjadi generasi harapan dan penuh rakhmat.
– Amiin –
No Comments Yet
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment

















