Pendidikan, BBM, dan bangsaku…. complicated ya ?

uan

Sehabis nonton TV One (Kamis malam), phu liat kejadian seorang anak SMP akhirnya meninggal setelah selesai mengerjakan soal ujian,

Phu jadi mikir niy,, apa iya sistem ujian akhir yang seperti itu masih efektif untuk mengukur kemampuan seorang siswa sesungguhnya dalam menjalani studi di sekolah ?

Ujung-ujungnya lebih dominan unsur luck juga dalam mendapati jenis soal yang keluar ternyata yang telah/belum dipelajari/dikuasai oleh anak didik tersebut.

Kalau memang begitu sistemnya,, mengapa adek-adek qt mesti menjalani sekolah ?
Masih perlukah proses belajar mengajar kontiniu selama 3 tahun sekolah ?
Mengapa tidak dari awal mereka dijejali latihan soal-soal persiapan ujian akhir nasional saja ? sehingga akan terbiasa mengerjakan soal sejenis, dan punya persiapan yang matang,,,

Akhirnya, prestise seorang guru bim-bel menjadi lebih terpandang dari pada menjadi seorang guru mata pelajaran di akhir masa sekolah, lebih realistis katanya.

Penilaian keberhasilan pada akhir masa pembelajaran memberikan, stressing tinggi pada adek-adek sekolah, kasihan,,

Kasus-kasus yang pernah phu denger,
Baca di koran Tribun Kaltim ada anak yang abis belajar semalaman, akhirnya paginya
ga mau ikut ujian, stress, dengan alasan bosan sekolah selama 3 tahun, sampai dijemput wali siswanya yang perduli pun dia masih enggan.

Terus ada lagi, seorang siswa A si bintang kelas, selama menjalani sekolahnya, dan memiliki nilai 8 / 9 di mata pelajaran lain, tetapi di satu mata pelajaran matematika nilainya kurang nol koma sekian dari rata-rata nilai yang dizinkan lulus, cuma di satu mata pelajaran menyebabkan anak itu harus tertinggal 1 tahun lagi untuk menempuh pelajaran di sekolahnya ? oh betapa urusan “dewi fortuna” masih sangat berperan di penilaian yang semacam ini ?

Sampai berita yang paling hangat meninggalnya seorang siswi akibat penyakit jantung sesudah dia selesai mengerjakan soal, yang bisa saja karena beban mental, fisik, kaget pengaruh stress, yang terlampau, pada seorang anak yg memang “mungkin” memiliki bibit penyakit jantung di tubuhnya.

Phu jadi ada ide,, sebelum ujian, bagaimana sebelum UAN dilaksanakan diadakan test psikologi dan kesehatan terlebih dahulu ? atau,, pada saat ujian disetelkan musik klasik yg menenangkan ? hm..

Phu jadi berpikir, gimana kalau pengambilan keputusan lulus atau tidaknya siswa dilihat dari proses belajarnya selama 3 tahun. Dimana nilai rata-rata selama di kelas bagus, dilihat dari prestasi kontiniu dari siswa yang bersangkutan. Saya pikir itu lebih objektif dalam menggambarkan siswa tersebut pantas lulus atau tidak.

Dan untuk diterima / tidaknya siswa di sekolah selanjutnya diadakan ujian masuk dengan kapabilitas tingkat kesulitan soal sesuai dengan kebijaksanaan atau tingkat kualitas sekolah masing-masing ?

Karena tentu banyak faktor yang mempengaruhi hasil ujian siswa.
Faktor mental/psikologi, kesehatan, kelelahan fisik,,
Sehingga peran guru bimbel menjadi lebih prestise dari pada seorang guru mata pelajaran di hari-hari menjelang ujian akhir sekolah :)

what can i say ?

 
Topikhangat yang lain,,
tentang solusi penyelesaian penghentian subsidi bahan bakar yang dampaknya akan sangat berpengaruh pada harga bahan baku yang lain, dan berpotensi meningkatkan kemiskinan,,

Dimana solusi pemberian bantuan berupa uang 100.000 dan bahan pangan kepada rakyat miskin perbulan dianggap sebuah solusi dewi penyelamat rakyat miskin.

Bener ga siy itu sebenarnya merupakan sebuah pengkerdilan mental ?

Apa iya uang bantuan itu memiliki road map yang pasti untuk memastikan uang itu sampai ke tangan orang yang berhak, ada pihak yang mengawasi ga’ siy ?

Mengapa sumber daya rupiahnya ga’ dicoba dialokasikan untuk memperbaiki infrastruktur antar perdesaan dan perkotaan yang notabene masih banyak masalah, transportasi menjadi tidak lancar ?
Kalau terus diperbaiki jantung transportasi dan infrastruktur yang lain masyarakat perdesaan dapat mendstribusikan sumber daya alamnya dengan lebih lancar ke kota khan ?

Solusi kemiskinan ya,, bekerja, solusi pembagian uang itu hanya solusi jangka pendek, dan tidak mendewasakan, mengkerdilkan potensi dan menumbuhkan mental untuk terus mengharap bantuan pada jiwa rakyat itu sendiri.

Iya kalau bantuan itu bisa continue/berkesinambungan ? bukan hanya dalam jangka waktu tertentu, yang setelah jangka watu itu rakyat yang telah terbiasa dengan bantuan, harus terkejut dan bingung jika bantuan tersebut dihentikan. ?

BBM oh BBM ….

gambar diambil dari :

http://penerbitdatakom.com/images/UAN-eko.JPG

http://campaign.pelangi.or.id/uploadimages/pages/7355312294608e55956bb8.jpg

2 Comments

  1. Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://pendidikan.infogue.com/pendidikan_bbm_dan_bangsaku_complicated_ya_

  2. Sip…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment